Kemaren pagi saya dengan acara interaktif di radio. Seperti biasanya, memang setiap hari radio saya tidak saya matikan, dari malam sampai pagi.
Bahasannya pagi ini adalah komentar tentang kepercayaan masyarakat terhadap calon pemimpin Jawa Timur. Subpertanyaannya adalah tentang bagaimana masyarakat bisa menjadi saksi dan memegang janji para calon gubernur beserta wakilnya selama masa kampanye.
Sebenarnya persoalan ingat mengingat itu sangat menyenangkan, apalagi yang diingat kata-kata besar dari orang-orang besar. Hanya saja yang membuat jawabannya jadi spektakuler terjun bebas adalah pertanyaannya, mereka menghiasi pertanyaan sederhana tentang menyaksikan dan mengingat janji menjadi lebih rumit. Pertanyaannya dihiasi dengan ilustrasi tentang pengalaman negatif yang diekspose, yaitu banyaknya janji2 yang hanya terucap di bibir waktu kampanye dan menguap pada waktu mereka sudah dilantik. Tak pelak ilustrasi yang berbusa-busa ini juga mengundang respon negatif dari jawaban hampir semua penelpon, kecuali satu yang mengatakan, "Ya... kita belom tau kan kedepannya kayak gimana. Kita liat dulu aja. Kan perubahan bukan hanya di tangan gubernur, tapi juga dijalankan oleh seluruh masyarakatnya".
Nah sehubungan dengan ingat mengingat ini, saya teringat sebuah teknik mengingat yang disebut dengan metode meniumonic. Metode ini terdiri dari beberapa teknik mengingat: loci, story, mind map, akronim. Coba kita bahas satu persatu untuk mengingatkan masyarakat pada janji-janji kampanye dari masing-masing calon gubernur dan wakilnya.
Teknik Loci
Teknik ini merupakatan teknik menempatkan beberapa hal yang masuk dalam satu tema bahasan, misalnya tentang kesejahteraan masyarakat, kesehatan, pertanian dan sebagainya. Teknik ini dilakukan dengan cara menempatkan satu tema bahasan itu pada suatu tempat yang tepat agar otak bisa menghubungkan dengan mudah antara hal yang diingat dengan tempatnya. Kalu di konsep belajar biasanya menganalogikan atau menggunakan asosiasi.
Untuk konteks pilkada, teknik ini bisa langsung dilakukan dengan cara menempatkan program pada tempat yang tepat. Misalnya program yang berlaku untuk daerah tertentu atau untuk institusi tertentu. Ambil contoh saja program kesehatan di masyarakat banyuwangi misalnya. Jadi di lokasi yang berhubungan dengan kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit, posyandu, balai keshatan atau klinik, kita bisa pasang poster yang isinya program umum ca/wagub terpilih dengan program khusus kesehatan. Konteks penempatan didasarkan pada dua hal, wilayah sasaran dan program spesifiknya. Hal ini mungkin juga efektif agar semua gubernur dan wakilnya memperhatikan daerah-daerah secara merata dengan program konrit dan spesifik sesuai dengan kebutuhannya masing-masing.
Teknik Story
Lebih enak juga jika setiap gubernur dan wakilnya, untuk menandai rasa syukur atas terpilihnya mereka, mereka menyisihkan sebagian kekayaannya untuk membuat buku cerita atau dongeng tentang visi masa depan Jawa Timur. Gubernur dan wakilnya bisa mengakomodir semua kepentingan daerah dengan cerita-cerita sesuai dengan visinya dalam sub-subcerita, sedangkan cerita umumnya atau cerita besarnya dimasukkan dalam dongeng tentang Jawa Timur. Dongeng atau cerita ini dibuat dengan gambaran yang detil sehingga tak terasa orang yang membaca sudah mencakup beberapa hal berkenaan dengan visi atau program Jawa Timur, mulai dari nama atau jenis program, tujuan, sasaran, target dan tolok ukur keberhasilan.
Teknik Mind Map
Peta pikiran digunakan untuk mempermudah dalam membuat gambaran menyeluruh dari visi dan program gubernur dan wakilnya. Peta Pikiran yang berupa gambar-gambar bagan dengan hiasan yang menggairahkan untuk tercapainya program dibuat dalam banyak bentuk, misalnya dengan kertas ukuran plano, billboard, poster atau kartu-kartu kecil yang bisa dimasukkan dompet atau saku dari masyarakat Jawa Timur. Akses internet juga bisa digunakan dengan menggunakan program Mind Manager yang di setap programnya bisa dihubungkan (link) sampai kepada rincian program.
Akronim
Bermain singkatan biasanya adalah hobi dari institusi (atau orang) untuk mempermudah pengucapan dan mengingatnya, seperti balitbang (badan penelitian dan pengembangan), ipoleksosbudhankam (ideologi ekonomi sosial budaya pertahanan dan keamanan) dan sebagainya. Oleh karen itu, bentuk peta pikiran juga bisa divariasi dengan bentuk akronim. Medianya bisa seperti yang dilakukan pada teknik peta pikiran.
Nah, sampai sejauh ini, mungkin cara ini bukan hanya menjadikan visi dan program ca/wagub menjadi tangung jawab beliau semata, tetapi juga dipikul rakyat Jawa Timur yang setiap saat juga bisa jadi pemonitor. Komitmen seluruh rakyat bahwa apa yang ada di kantong mereka, yang dilihat di perempatan jalan, yang ada di tembok gang RT dan sebagainya merupakan bagian dari pekerjaan bersama. Tambahan poster atau tulisan-tulisan yang membuat semua tergugah, masuk menjadi bagian dari pelaksana sekaligus yang menikmati hasil juga selayaknya dibuat.
Rudi Cahyono
untuk Indie-Leader
http://rudolphcahay.blogdrive.com/
17 Juli 2008
Mneumonic for Leader
04 Juli 2008
THE GOD OF SMALL ACTION
Pagi ini terbangun setelah tidur lagi pasca menunaikan ibadah. Aku lirik jam di hand phone menunjukkan pukul 05.18. Terdengar lirih suara dari radioku yang semalaman tak pernah mati. Ternyata lagu-lagu nasyid (lagu-lagu Islami) dari DeltaFMlah yang membangunkanku. Tidak sadar mulut komat-kamit mengikuti lantunan lirik yang ternyata pernah aku nyanyikan 6 tahun yang lalu, lagu dari dari Rayhan, "Berhibur".
Berhibur tiada salahnya
Kerna hiburan itu indah
Namun pabila salah memilihnya
Membuat kita jadi bersalah
Di sini kita berkumpul bersama
Menyanyikan lagu yang suci indah
Irama pujian kepada Alloh
Alunan sholawat kepada Rosul
dst dst....
Ingatan melayang seiring mulut berdendang. Di pojok ruang kelas besar Fakultas Psikologi ada seorang penabuh gendang yang dengan rancak bana memukul perkusi. Empat orang memegang mic, satu mic untuk dua orang. Satu lagi asyik mengayun tamborin dari pasir dan bekas wadah susu fermentasi. Suara syahdu menggema bukan hanya di dalam kelas, menyeruak merambat menyentuh setiap telinga.
Aku memeriksa phonebook di hp-ku. Ternyata nomor mereka masih bertengger di situ, teman-teman anggota group vokal nasyid yang dulu cukup dikenal di kampus. Group yang pernah menaklukkan kejuaraan nasional dan berada di urutan ke14 tangga lagu nasyid. Pernah juga menggemparkan hall di tengah supermall Tujungan Plasa Surabaya. Semua ingatan itu begitu indah dan sepertinya baru kemarin.
Niatan aku teruskan dengan membukan new text pada menu message di hp. Aku mengetik,
"Heri, guk,war,tyo,wahyu,ihda,aku barusan nyanyi2 nasyid ndiri. Jd ingetG-third. Kapan rekaman qt keluar?"
G-third adalah nama kelompk nasyid yang pernah kami bangun dan besarkan. Nama G-third berasal dari inisial nama kami, Gaguk, Tyo, Hery, Ihda, Rudi dan Dhana. Sementara itu Wahyu baru bergabung satu tahun setelah berdiri. Meski demikian, tidak jarang ada additional player atau featuring vocal. Dauz dan Ardi juga sering terlibat.
Setelah sms diketik, aku segera mengirimkannya. Sembari menunggu reaksi dari teman-teman, aku membaca lagi sms itu. Tiba-tiba air mata meleleh di pipi. Baru sadar jika salah satu teman yang rencanan mau aku kirimi semua telah mendahului. Tyo meninggal dunia karena kecelakaan. Beliau ditabrak kereta api tepat sebelum kita manggung untuk kejuaraan setingkat Jawa Timur.
Beberapa menit kemudian datanglah balasan dari Hery,
"He5x.Ngapain nyanyi2 sndiri? Ok rud,nti kita kOnser heboh lg. He5x"
Balasan yang lain datang dari Gaguk,
"Rudi...!!!"
Sedangkan Ihda,
"Tak terasa semua berlalu begitu cepat. I miss u all"
Bahkan Dhana,
"aQ turut prihatin atas mslh kejiwaan yg menimpamu..."
Balasan terbaru dari Wahyu,
"Iyo iyo kpn iki gawe rekamane..Sukses karir juga sukses nasyid,hehe.."
Meski tidak semua orang membalas, tapi sms tersebut telah membawa semua ingata menyatu seketika, menciptakan dialog dalam jaring-jaring jarak jauh yang tak terlihat. Pada saat yang sama semua energi terkumpul, menciptakan dialog lewat media ingatan, kenangan masa lalu.
Inilah yang dinamakan ulah kecil yang menghimpun energi. Keharuan dan romantisme yang menyatu seketika. Coba bayangkan jika efek-efek seperti ini dilakukan dalam membina hubungan rumah tanggal, persahabatan, dengan kekasih, rekan kerja, kolega, sesama aktivis organisasi. Dunia akan disatukan pada jangkar (anchor) ingatan. Hanya saja kemana ingatan itu akan kita bawa. Jika kita ingin menghimpun energi positif, maka carilah kenangan-kenangan yang menyenangkan, menggairahkan, memberi semangat. Sebarkan dan ajaklah orang lain untuk berdialog. Gunakan sekreatif mungkin dengan pertanyaan atau pernyataan yang mempunyai kekuatan emosional yang memancing reaksi. Tujulah apa yang ingin dihasilkan dari pembentukan jaringan dialog raksasa dari keusilan hal kecil. Selamat mencoba!
Kabar baik Indonesia?
Rudi Cahyono
http://rudolphcahay.blogdrive.com/
24 Juni 2008
22 Juni 2008
Interaksi Tersembunyi Suporter dan Pemain
Di Balik Keberhasilan Tim Uber Indonesia
Berbicara mengenai tawa, saya bersimpati terhadap pemain ganda Jerman yang sebelumnya telah ditumbangkan oleh tim Uber Indonesia dengan skor 3-1. Kedua dara Jerman tersebut sesekali tertawa, meskipun reli diakhiri dengan shuttle cock jatuh di lapangan mereka. Pada waktu itu mereka melakukannya untuk menertawakan kekurangan mereka sendiri. Juga merupakan kekaguman mereka terhadap permainan cantik telah disuguhkan oleh tim mereka dan tim Indonesia. Tawa mereka mendatangkan energi, sehingga serangan mereka beberapa kali mengancam Gresia Polii dan Joe Novita, meski pada akhirnya mereka harus menyerah pada Indonesia.
Berbeda dengan Maria Kristin yang pada waktu itu ditekuk oleh tunggal Jerman, Xu Huaiwen. Maria Kristin lebih cool dalam menjalani setiap langkah permainan. Hal yang sama juga terjadi pada Sony Dwi Koencoro yang dikalahkan dengan rubber set oleh Park Sung Hwan, dan Taufik Hidayat yang takluk strict set di bawah pukulan raket Lee Hyun Il. Pada waktu itu, ketiga pemain Indonesia tersebut sangat mahal untuk melakukan perayaan jika mengalami keberhasilan. Mereka sangat jarang tersenyum, kurang ekspresif dan tidak mengirimkan gestur interaktif dengan suporter.
Padahal pada waktu dukungan diberikan oleh penonton, energi telah disalurkan kepada pemain. Bahkan pemirsa televisi yang ada di rumah pun juga melakukan hal yang sama. Untuk beberapa pemain kita, terutama Tim Uber, energi tersebut mampu diolah dan dipantulkan kembali kepada penonton dengan bermain lebih ekspresif. Lebih-lebih jika ekspresi tersebut diungkapkan untuk merayakan keberhasilan. Sorakan yang digemakan oleh superter Indonesia disalurkan dalam bentuk energi positif yang mengangkat moral pemain. Jika energi tersebut diolah dengan baik, dipadukan dengan imajinasi akan kemenangan, maka terjadi penguatan energi dengan cara resonansi. Penonton mendapatkan energinya kembali dari pemain, sehingga lebih bersemangat memberikan dukungan. Selain itu, energi yang berputar dan saling memperkuat di antara penonton juga semakin besar. Pada saat seperti inilah terjadi spiral energi menaik. Hal ini juga dimiliki dan dilakukan oleh tim China, baik Tim Thomas maupun Tim Ubernya.
Energi dari penonton bersatu dengan harapan mereka yang besar akan kemenangan. Kalau saja pemain kita, terutama Tim Thomas, mampu merespon energi dahsyat yang dikirim oleh penonton, saya yakin Tim Thomas pasti berhasil menaklukkan Korea. Memang tidak semua pemain gagal mengelola energi tersebut. Hanya saja kebetulan pemain yang diturunkan pada waktu melawan Korea adalah pemain dengan karakter yang dingin atau mungkin tenang menurut versinya tim Thomas. Coba saja amati wajah Sony Dwi Koencoro, Hendra Setiawan atau Taufik Hidayat. Apakah wajah tersebut memantulkan energi kepada suporter? Jangankan memantulkan energi, menghiburpun tidak. Malah wajah mereka nampak seperti orang cemas. Pada saat sinyal wajah dingin itu diterima oleh penonton, saat itu terjadi usaha mendisonansi energi perlahan-lahan. Untung saja penonton masih terus menggalang energi di antara mereka, sehingga masih mau bersorak. Bandingkan dengan Tim Uber yang lebih ekspresif. Meskipun saya tidak berani memastikan, tapi saya yakin ekspresi mereka mempunyai peranan besar dalam keberhasilan mereka menjadi finalis.
Selain itu, kekalahan di partai sebelumnya akan mempengaruhi sirkulasi energi pada partai berikutnya. Kebekuan ini seharusnya dipecahkan oleh pemain di partai berikutnya setelah pemain sebelumnya mengalami kekalahan. Ambil contoh saja kekalahan tunggal China Lindan atas Lee Chong Wei permainan Malaysia atau Sony Dwi Kuncoro yang berhasil digasak oleh Boonsak Ponsana dari Thailand. Untung saja Bao Chunlai, tunggal China, mampu mengalahkan Wong Chong Hann dari Malaysia, demikian juga dengan Markis Kido dan Hendra Setiawan yang berhasil menyisihkan ganda Thailand, Tesana Panvisavas dan Nuttaphon Narkthong. Atau contoh lain ketika ganda China, Cai Yun dan Fu Hai Feng, mengalahkan Koo Kien Keat dan Tan Boon Heong dari Malaysia. Keberhasilan ini akan berefek pada keberhasilan berikutnya.
Selain memang moral yang terangkat, perayaan kemenangan juga membuat keberhasilan itu berulang. Harapan yang bangkit dari diri pemain dan seluruh pendukung merupakan kekuatan bersar yang terfokus pada satu tujuan, yaitu menang. Ini yang disebut law of attraction oleh Michael J. Losier. Bertolak belakang dengan Tim Thomas yang sebagian besar digawangi oleh pemain-pemain supercool. Masih beruntung mereka punya skill yang cukup tinggi. Akan tetapi, bemain di lapangan tidak cukup hanya mengandalkan skill. Seluruh konteks pada saat permainan dilangsungkan ikut memegang peranan. Pada waktu permainan itulah atmosfir pertandingan diciptakan. Komponen personal, seperti pemain, pelatih, petugas lapangan, penonton atau supporter sangat berpengaruh. Begitu juga dengan komponen impersonal, seperti lapangan, peralatan bulu tangkis, pencahayaan juga ikut menentukan.
Jika dibandingkan dengan pertandingan yang sama di Amerika atau Negara-negara Eropa, pertandingan yang dilangsungkan di wilayah Asia punya atmosfir yang berbeda. Di negara-negara Eropa atau di Amerika, faktor skill menjadi hal utama dalam membentuk atmosfir. Jika pemain tidak mempunyai skill yang baik, maka pertandingan tidak akan menghibur. Berbeda dengan atmosfir pertandingan di wilayah Asia. Pembentuk atmosfir terbesar adalah penonton. Oleh karena itu, faktor penonton patut diperhitungkan. Penonton di Asia, terutama di Indonesia, tidak pernah putus memberikan dukungan kepada pemain mereka. Sorakan, nyanyian, bunyi terompet, menggema mengiringi jalannya pertandingan. Hal inilah yang menyebabkan penonton punya sumbangsih yang besar dalam memberikan energi dalam pertandingan, terutama energi bagi pemain yang didukungnya. Jika tidak mampu dimanajemeni dengan baik, maka energi yang dikirimkan oleh suporter tidak akan berarti lebih daripada sekedar teriakan.
Memanajemeni suporter bukan cuma mengobjekkan suporter sebagai sumber sorak sorai. Yang menjadi fokus pengolahan adalah pada energi yang mereka kirimkan. Tentu saja harus ada saling dukung antara pihak yang berkepentingan dengan energi tersebut, yaitu pemain dan penontonnya. Jika dalam diri pemain energi tidak diolah dengan baik, maka proses yang terjadi adalah disonansi energi yang menjadi spiral energi menurun sampai terjadi pemunahan (energy distiction).
Selain muatan energi, dalam sorakan penonton terdapat muatan substansi, yaitu harapan untuk menang. Kemenyatuan antara keduanya menghasilan kekuatan yang dahsyat. Pengelolaan yang baik pada diri pemain seharusnya menjadi bagian dari porsi latihan mental. Manajemen energi yang baik sebenarnya sudah terjadi secara alamiah (belum secara formal) pada Tim Uber. Seharusnya Tim Thomas belajar dari mereka. Pengelolaannya adalah dengan melakukan interaksi energi dengan penonton, yaitu merespon sinyal dari penonton dengan bermain lebih ekspresif. Jika mendapatkan kemenangan atau keberhasilan kecil, jangan ragu untuk bersorak menghadap penonton dan melakukan touch antar pemain dengan ekspresi yang ditujukan kepada penonton. Selain lebih menghibur, cara ini juga mengirimkan energi kepada penonton untuk semakin memberikan semangat.
Perayaan punya makna ganda yang juga bisa melipatgandakan keuntungan. Tuhan berjanji akan menambahkan kenikmatan terhadap sesuatu yang disyukuri. Seperti halnya orang yang tahu berterimakasih, maka yang memberi tidak akan segan untuk memberi lagi. Selain makna spiritual, perayaan sebagai rasa bersyukur juga mengangkat moral. Perayaan merupakan hadiah kecil yang diberikan secara spontan. Karena diberikan langsung, perayaan menjadi perekat yang kuat untuk mengaitkan keberhasilan dengan efek kesenangan yang ditimbulkannya. Dalam melakukan usaha selanjutnya, orang akan teringat bahwa keberhasilan bisa mendatangkan kebahagiaan. Akibatnya, energi yang ditimbulkannya juga akan semakin besar dan menjadi modal berikutnya.
Setiap elemen yang terlibat dalam suatu usaha, layak untuk ikut merayakan. Dalam permainan bulu tangkis, pemain, pelatih, penonton, manager dan semua pihak terkait juga berhak merayakan keberhasilan. Perayaan yang melibatkan semuanya dilakukan ketika keberhasilan dirayakan di luar lapangan. Hal ini pasti akan mengangkat moral pemain di laga berikutnya. Namun perayaan yang dilakukan langsung ketika mendapatkan keberhasilan-keberhasilan kecil juga sangat penting. Pada waktu di lapangan, pemain bisa melakukannya. Tentu saja hal ini akan mengangkat moral ketika menjalani pertandingan. Pada saat di lapangan, pihak yang terlibat hanya dua, pemain dan suporter. Pada saat itulah interaksi energi harus dilakukan untuk terus memompa semangat pemain, dan tentu saja semangat penonton dalam memberikan dukungan.
Karena itu, saya berharap keberhasilan Tim Uber terus berlanjut. Dengan perayaan yang dilakukan secara ekspresif, baik dalam bermain maupun merayakan keberhasilan, Tim Putri Indonesia tidak hanya menjadi finalis, tetapi juga sukses membawa pulang Piala Uber. Mudah-mudahan Tim Uber tidak ragu untuk merayakan keberhasilan, sekecil apapun, dan mampu melakukannya dengan ekspresif.
19 Juni 2008
"mOdeRaSi iMpiAn"
Tepatnya hari sabtu kemaren... Seorang teman lama memintaku untuk membantunya memberikan outbound training di kawasan Taman Dayu, Pandaan. Konfirmasi keberangkatanku baru aku sampaikan satu hari sebelumnya. Acaranya sendiri mulai hari Jumat dan Aku berangkat hari sabtu pagi. Sebenarnya belum ada materi yang aku persiapkan. Hanya perlengkapan outbound seadanya yang aku bawa. Agak sedikit takut dan berdebar kala kumulai perjalanan itu. Di dalam hati aku berharap di sana nanti akan ada secercah inspirasi menggores lembut di pangkal hemisfer.
Melangkah ku dengan santai menuju campground yang tampak masih rimbun itu. Berbekal ilmu dan pengalaman selama ini, serta sedikit peralatan yang aku bawa, satu sesi acara aku pegang sepenuhnya. Selama hari sabtu, pagi sampai sore, aku bertemu dengan teman baru, para peserta pelatihan yang notabene adalah kelompok dampingan LSM Plan Internasional. Aku mengawali sesi itu dengan perkenalan yang dibalut dengan permainan "winning ball" serta "simon sayz". Klasik memang, tetapi sebagian peserta masih belum mengenalnya.
Sembari melangsungkan permainan aku mulai melihat-lihat ke sekelilingku. Pohon-pohon pinus mengelilingi dengan interval masing-masing 3-5 meter. Lahan rumput yang sudah mulai mengeras mengiringi datangnya kemarau, tidak cukup luas untuk aktivitas yang membutuhkan banyak ruang. Dari lanskap hijau-coklat itu aku coba merancangkan suatu permainan yang dapat memanfaatkan setiap jengkal potensi-potensi alami tersebut. Kembali kulihat perbekalan alat yang kubawa dari Surabaya. Ada tali rafia, tali pramuka, kertas HVS, balon, stiker, tali tampar, benang wol, selotip, plastik air dan banyak lagi peralatan lain.
Di tengah jejaring abstraksi benda-benda yang terlukis di permukaan otakku, seakan sebuah gambar arsiran tercetak halus. Gambar itu melukiskan kegembiraan yang mencetak di atas wajah-wajah peserta pelatihan yang sedang bermain bersama. Aku lanjutkan aktivitasku untuk mencari tahu sekali lagi apa "goal" yang diharapkan dari sesiku. Temanku berkata agar para peserta mampu memahami peran penting dirinya bagi organisasi selepas sesiku selesai.
Yak! Selesai sudah aku mengurai pola-pola yang sedari tadi mengurungku. Segera saja setelah materi "Team Building" aku bersiap mengosongi kotak perlengkapan dan membawanya ke salah satu sudut pepohonan dan membuat permainan... "Spiderwebs"! Tak hanya itu, seakan segenap semesta bersatu menyokong gerakku, mata ini terasa awas ketika melihat seonggok tangga tergeletak di suatu pojok rerimbunan, tangan ini terasa kuat saat mengangkat dan menegakkan tangga yang terbuat dari besi itu, dan tubuh ini terasa ringan ketika ku menaiki tangga guna menambatkan tali ke atas pepohonan untuk permainan selanjutnya yang bahkan aku sendiri belum memiliki namanya.
Tiba-tiba saja hati ini gembira, tubuh ini bersemangat dan neuron-neuron di otakku sangat aktif berloncatan dari satu memori ke memori yang lain. Ini lebih indah dari impianku bercinta dengan artis cantik. Hehehe... Yang pasti hatiku tak lagi berdebar dan perasaan takutku telah hilang karena aku pikir aku telah berhasil memoderasi impianku...
SALAM BERGELORA!!!
(d4uz, dari memori Taman Dayu 14/06/08)
18 Juni 2008
Bentuk pembelajaran mandiri yang digunakan adalah model self-directed learning (1). Model ini lebih banyak berkaitan dengan metode pembelajaran dalam pengelolaan diri. Untuk lebih jelasnya, beberapa hal mengenai self-directed learning dapat dipilah menajdi poin-poin berikut:
a.Pembelajaran individual yang dapat memberdayakan individu untuk mengambil peranan dalam berbagai keputusan yang berhubungan dengan usaha pembelajaran.
b.Lebih dipandang sebagai kontinum atau karakteristik dengan beberapa tingkatan pada diri setiap orang dan situasi belajar.
c.Pembelajaran tidak mungkin dilakukan dalam situasi yang terisolasi dari lingkungan atau orang lain.
d.Pembelajar mandiri lebih nampak sebagai proses transfer dalam dua hal, yaitu pengetahuan dan keterampilan dari satu situasi ke situasi yang lain.
e.Pembelajaran mandiri dapat melibatkan berbagai aktivitas dan sumber, seperti panduan membaca, partisipasi dalam belajar kelompok, masa pembelajaran, dialog lewat internet, dan aktivitas menulis reflektif.
f.Peran efektif guru dalam self-directed learning sangat dimungkinkan, seperti dialog antar pembelajar, perawatan sumber daya, evaluasi keluaran, dan berpikir kritis.
g.Beberapa lembaga pendidikan menggunakan cara untuk mendukung self-directed learning melalui program belajar terbuka, pembelajaran individual, pembelajaran modern dan program inovatif lainnya.
Proses self-directed learning secara singkat dapat dijelaskan dalam tahap-tahap yang berupa siklus sebagai berikut:
1. Penemuan pertema: Diri ideal saya
Pencarian yang dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan “Saya ingin menjadi seperti apa?
2. Penemuan kedua: Diri riil saya
Pencarian yang dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan “Siapakah saya saat ini?”, “Apa kekuatan dan kesenjangan saya?”
3. Penemuan ketiga: Agenda pembelajaran saya
Pencarian yang dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan “Bagaimana saya bisa membangun kekuatan sambil mengurangi kesenjangan saya?”.
4. Penemuan keempat: Bereksperimen dan mempraktekkan perilaku, pikiran dan perasaan baru sampai ke tingkat penguasaan.
5. Penemuan kelima: Mengembangkan relasi yang mendukung dan yang memercayai yang memungkinkan perubahan
(1)Model pembelajaran yang juga diterapkan pada Indie Leader Training
13 Juni 2008
11 Juni 2008
gULaNa?

Apa yang kau lakukan di kala gundah? Apakah kau mencoba mengatasi kegundahan itu? Berusaha menenangkan diri? Mencari tahu penyebab kegundahan itu? atau bahkan mengukur sejauh mana kegundahan itu berpengaruh pada aktivitasmu?
Yah itu memanglah susah. Akan tetapi ada satu cara alami untuk menjawab sebuah kegundahan. Cara ini bukanlah magic yang secara tiba-tiba membuat rasa itu hilang. Atau juga ini tidak akan membuat kita menjadi kebal dengan rasa gundah yang mengguncang jiwa. Cara ini sebenarnya cukup mudah. Cukup dengan menjawab pertanyaan yang ada di atas dengan jawaban, "Jika saya gundah, nafas saya menderu sampai tak tahu kapan saya harus mengambil udara dan mengeluarkannya, mata saya menerawang liar tanpa ada tujuan untuk melihat, lidah saya kelu bahkan getir tak akan mengganggu, telinga saya hampa seperti mendengar rumah keong di pinggir pantai yang ditinggal pemiliknya, kulit saya menebal sehingga tak merasakan sekelilingnya, pikiran saya kacau tanpa arah tanpa keinginan, hati saya menipis hingga mudah sekali terkoyak".
Cobalah untuk berdiskusi dengan diri sendiri saat melakukan ini dan jangan coba-coba menjawab ini dengan suara yang dapat didengar oleh orang lain. Hal itu akan mengurangi efek treatment ini. Get your own self-trancendence..... selamat mencoba !!!
(diambil dari situs kawan indie)
31 Mei 2008
BROWNIES LEADER
(Selengkapnya)
Prens... Kayaknya kita dah punya satu lagi media buat bertukar pikiran or perasaan...
Setelah mailing list sekarang blog... semoga media ini bermanfaat buat kita semua..
With this stuff kita punya kesempatan buat berkreasi or sekedar memanjakan mata dengan fitur-fitur yang ada...
Buat kawan-kawan yang pengen karyanya di tampilkan langsung aja kirim ke imel aku (d4uz)... ato kirim aja ke mailing list Indie Leader. Otre...
SALAM BERGELORA!






